Scientific Vision Prodi

Visi pemerintah Republik Indonesia (2015-2019) termaktub dalam Nawacita yang berkehendak memajukan Indonesia untuk menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Di bidang pembangunan ekonomi, Nawacita berusaha diwujudkan dengan: 1) membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan; 2) meningkatkankan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional; dan 3) mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Untuk mewujudkan ketiga agenda prioritas nasional tersebut, ekonomi kreatif, kewirausahaan, serta Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (KUMKM) memiliki peran yang fundamental.

Untuk mewujudkan produktivitas, daya saing, dan kemandirian ekonomi, aktivitas wirausaha memiliki pengaruh yang signifikan. Kewirausahaan adalah faktor penting yang menentukan kemakmuran suatu bangsa. Untuk menjadi negara yang makmur, minimal 2% dari keseluruhan penduduknya adalah wirausahawan atau 4,8 juta orang dari seluruh penduduk Indonesia. Berdasarkan data BPS 2016, jumlah wirausahawan non-pertanian telah mencapai 3,1% atau 7,8 juta orang. Namun demikian, persentase itu masih lebih rendah dibandingkan negara- negara seperti Malaysia (5%), Tiongkok (10%), Jepang (11%), dan AS (12%). Beberapa masalah diketahui menjadi penghambat peningkatan wirausaha yang mana salah satunya adalah kurang sinerginya program pemerintah, perguruan tinggi, swasta, dan pemangku kepentingan dalam mengembangkan dan mendukung wirausaha yang berkelanjutan.

Perguruan tinggi memiliki peran dalam melahirkan wirausahawan baru terutama dari golongan mahasiswa atau dewasa muda. Saat ini kewirausahaan menjadi kurikulum wajib di program studi dan setiap tahun diadakan kompetisi wirausaha untuk mahasiswa. Namun demikian, peran perguruan tinggi sesungguhnya dapat lebih daripada itu dengan mengembangkan ilmu kewirausahaan untuk meningkatkan kualitas produk, kinerja, dan produktivitas wirausaha, serta membentuk karakter wirausaha (entrepreneurial character).

Hal ini mendorong ditetapkannya “Islamic Entrepreneurship” sebagai Pola Ilmiah Pokok (PIP) di UMMagelang. Karakter Islami berarti menjunjung integritas dan nilai-nilai Islam dalam setiap perilaku, serta peduli pada kesejahteraan masyarakat dan dinamika lingkungan. Sementara, karakter entrepreneruship berarti mampu menciptakan dampak positif bagi diri dan lingkungan. Entrepreneurship adalah sarana untuk mempertegas peran seseorang di masyarakat, untuk memudahkan manusia mencapai tujuan kesejaheraan hidup, yaitu hidup yang layak, bahagia, dan tenteram.

Pendidikan kewirausahaan di UMMagelang merupakan pendidikan karakter wirausaha, yakni semangat, jiwa, dan sikap seorang wirausahawan seperti: berani menghadapi risiko, pola pikir sukses, kemampuan komunikasi efektif, dan pandai mengambil kesempatan, serta punya kreativitas untuk berinovasi. Orientasi pendidikan kewirausahaan tidak mengarahkan seseorang untuk sekedar menjadi pedagang. Seorang entrepreneur sejati adalah pribadi dengan karakter inovatif, kreatif, mandiri, berpikir ke depan, termotivasi untuk menjadi lebih baik, dan memperhatikan etika dan nilai-nilai keislaman.

Keinginan mendukung dan membantu pemerintah dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0, serta mewujudkan “Entrepreneurship Islami” di UM Magelang pada khususnya dan Magelang dan sekitarnya pada umumnya, memotivasi prodi Ilmu Komunikasi menetapkan “Komunikasi Bisnis Berbasis Media dan Digital” sebagai identitas dan visi keilmuan program studi. Lee et al (2013) menjelaskan, industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor: 1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas; 2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis; 3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dan 4) perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing.

Tujuan yang hendak dicapai visi keilmuan prodi Ilmu Komunikasi adalah terselenggarakannya pendidikan ilmu komunikasi yang mendukung tantangan revolusi industri 4.0 dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang mumpuni dalam keterampilan literasi media, literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia. Selain itu, juga harus memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan yang berubah sangat cepat. Zesulka (dalam Yahya, 2018) menambahkan, industri 4.0 digunakan pada tiga faktor yang saling terkait yaitu; 1) digitalisasi dan interaksi ekonomi dengan teknik sederhana menuju jaringan ekonomi dengan teknik kompleks; 2) digitalisasi produk dan layanan; dan 3) model pasar baru.

Maka itu, kesiapan dalam menyelenggarakan pendidikan ilmu komunikasi yang up to date, mengintegrasikan teori dan praktik, responsif terhadap isu-isu terkini dan kesiapan dalam menciptakan peluang wirausaha di bidang teknologi dan komunikasi. Dengan visi ini, prodi Ilmu Komunikasi tidak hanya sekedar menghasilkan lulusan yang dapat dengan cepat memenuhi kebutuhan pasar, tetapi juga menyelenggarakan pendidikan yang siap menghadapi tantangan masa depan industri dan dapat “menciptakan pasar”.